Bismillah.

0
Adab

Renungan Kemerdekaan

Satu objek cinta yang diajarkan oleh Islam, adalah cinta tanah air. Kita berkata demikian, walaupun dalam saat yang sama kita harus menggaris bawahi, bahwa apa yang populer dinamai orang atau dinilai orang sebagai hadits Nabi ﷺ yaitu: “Cinta tanah air sebagian dari iman” walaupun itu dinisbahkan kepada Rasul, namun penisbahannya tidaklah shahih.

Namun, sekali lagi itu bukan berarti bahwa Islam tidak memerintahkan untuk mencintai Tanah Air. Tahukah saudaraku, bahwa Islam mensejajarkan Agama dengan Tanah Air, bacalah misalnya firman Allah yg mengatakan:

Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.

(al-Mumtahanah: 8)

Mengusir dari tanah air disejajarkan dengan memerangi dalam Agama, Allah mensejajarkan mencabut nyawa dengan meninggalkan tanah air, karena memang tanah air perlu kita cintai.

Nabi sebelum berhijrah ke Madinah, di Mekkah beliau berkunjung ke suatu wilayah, di sana beliau melepaskan rindunya sambil berkata, “seandainya pendudukmu wahai Mekkah tidak mengusir aku dari Mekkah, engkau tidak akan kutinggalkan, engkau adalah negeri yg paling ku cintai”.

Ketika sampai di Madinah, kerinduan kepada Mekkah masih tetap ada, sahabat² beliau pun mengingat kota Mekkah, mengingat negeri tempat kelahiran mereka, maka Nabi berdoa, “Ya Allah jadikanlah kota Madinah kami cintai sebagaimana kami cintai kota Mekkah”

Cinta tanah air, menjadikan si pecinta akan selalu menampakkan keindahan tanah airnya, akan selalu membangun tanah airnya, akan selalu berusaha untuk menghindarkan segala yang memberikan kesan keburukan kepada tanah airnya.

Menarik juga, bahwa kita dalam bahasa indonesia menunjuk negeri tempat kelahiran kita dan tempat kita berdomisili dengan kata tanah air.

Tanah, karena dari tanahnya kita lahir, di atas tanahnya kita besar, dari airnya kita meneguk, dari airnya kita lahir, tanah kita butuhkan, air kita butuhkan, tanah air pun kita butuhkan. Dia adalah ibu pertiwi, karena dia menyayangi kita, dia tidak kikir dengan segala apa yang dimilikinya untuk kita gunakan, persis seperti ibu yang mencintai anaknya, bersedia berkorban untuk anaknya demi kelangsungan hidup sang anak, begitulah tanah air, begitulah cinta kepadanya.

Karena itu, kalau anda ingin melihat kesetiaan seseorang lihatlah bagaimana kerinduannya kepada tanah air, dan kata orang, anda boleh berpindah dari satu negeri ke negeri lain, tapi kerinduan tetaplah kepada tanah air.

Dalam al-Quran secara umum, Allah menjadikan kita sebagai Khalifah yang bertugas menghadirkan sebanyak manfaat dan maslahan untuk sesama bahkan untuk semesta, dan Allah pun berpesan agar kita jangan berbuat kerusakan di muka bumi ini.

Lalu, jika kita tarik dengan makna Kemerdekaan, dan menjaga tanah air kita, sudah sepatutnya kita menjaga tanah air kita, negeri ini, kampung halaman kita dari kerusakan baik yang sifatnya kerusakan fisik maupun non fisik. Kerusakan fisik dengan cara kita merusak alam, fasilitas umum dan benda-benda lain yang sifatnya penunjang kehidupan manusia. Kerusakan fisik dapat kita segera perbaiki dan mudah dideteksi, namun ada yang lebih besar dampaknya yang sulit terdeteksi namun bisa berkepanjangan kerusakannya yaitu kerusakan akidah, akhlak maupun ibadah.

Maka, tugas kita sebagai khalifah untuk menjaga bumi ini, menjaga negeri dan tanah air yang kita cintai, karena makna kemerdekaan bukanlah berarti kita sudah selesai dari penjajahan, melainkan terus melanjutkan perjuangan, mengestafetkannya kepada generasi selanjutnya.

Wallahu a’lam bishshawab

tanah air

Ustadz Achmad Yaman Lc, MA
Ustadz Achmad Yaman Lc, MA

Ustadz kelahiran 22 May 1981 sudah menikah dan dikaruniai 4 orang anak, pernah mengecap pendidikan di Pesantren Persatuan Islam (Persis 04) dan kemudian melanjutkan pendidikan di Al Azhar University, Cairo - Mesir dan mengambil program S2 di Universiti Kebangsaan Malaysia tahun 2009 Saat ini aktif sebagai dosen dan mengajar di Ma'had al-Hikmah, Mampang Jakarta Selatan dan Pengasuh Markaz al-Quran Ubay bin Ka'ab Garut, serta aktif memberikan ceramah di Masjid dan Renungan Pagi di Sosial Media seperti Youtube, Facebook dan Instagram

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Privacy Settings
We use cookies to enhance your experience while using our website. If you are using our Services via a browser you can restrict, block or remove cookies through your web browser settings. We also use content and scripts from third parties that may use tracking technologies. You can selectively provide your consent below to allow such third party embeds. For complete information about the cookies we use, data we collect and how we process them, please check our Privacy Policy
Youtube
Consent to display content from Youtube
Vimeo
Consent to display content from Vimeo
Google Maps
Consent to display content from Google
Spotify
Consent to display content from Spotify
Sound Cloud
Consent to display content from Sound
Cart Overview